Saat menonton jalanya pertandingan sepak bola persahabatan antar kampung -- PSG (Gandri) Sedan vs DFC (Dabong) Sarang-- di Lapangan Diponegoro Desa Gandri Kecamatan Sedan pada Jum'at 25-03-2022 ,mengingatkan saya pada legenda total football Belanda Johan Cruyf.
Ia pernah mengatakan,''Hal tersulit untuk membuat pertandingan berjalan mudah adalah menjadikan lawan bermain kedodoran. Seorang pemain dikatakan buruk jika ia punya kecenderungan menciptakan gol ke dalam gawangnya sendiri dan gampang mengamuk jika terus-menerus ditekan.''
Sejak peluit kick off babak pertama dibunyukan wasit,PSG Gandri yang berkostum orange tampil menyerang,menerapkan teknik total football ala Belanda.Mereka terus-menerus menyesuaikan perspektifnya mengikuti alur pergerakan bola seperti sedang pemanasan dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan penetrasi ke gawang lawan.
Pada saat yang tepat mereka--tidak terlalu dini dan tidak pula terlambat,hasilnya sebelum babak pertama usai mereka mampu menciptakan dua gol ke gawang lawanya dengan cantik.
Masih menurut Johan Cruyf--keindahan sejati dari permainan terindah tidak hanya terletak pada teknik yang mengecoh,atraksi-atraksi yang memukau tetapi juga kekompakan.
Pesepak bola,saat bermain bola i tidak hanya mengandalkan tubuh yang jangkung,kelenturan oot,badan besar dan tinggi tapi juga menggunakan otak,karena aturan bermain sepak bola itu sederhana.Jika menguasai bola, buatlah ruang di lapangan itu seluas-luasnya dan jika kehilangan bola, buatlah ruang di lapangan itu menjadi sempit dan mengancam.
Pada babak kedua PSG Gandri menerapkan tehnik itu ,mereka terus-menerus menyesuaikan perspektifnya mengikuti alur pergerakan bola. Pada saat yang tepat mereka--tidak terlalu dini dan tidak pula terlambat sehingga mampu menambah 4 gol ke gawang kompetitornya.
Sementara itu,Albert Camus seorang filsuf, penulis, dan jurnalis,peraih hadiah Nobel Sastra tahun1957, mengatakan;"banyak hal tentang moralitas dan kewajiban hidup saya yang saya dapat dari sepak bola".
Sepertinya kata-katanya perlu diralat lagi, jika merujuk pada penampilan tim DFC Dabong pada sore itu.
Selama ini pun saya berpikir sama dengan Albert bahwa dalam pertandingan sepak bola setiap pemain pasti berhasrat untuk bermain bagus--menguasai bola,mencari ruang yang kosong dan mengumpankan bola kepada temanya--tetapi pikiran itu salah dan tidak berlaku untuk tim DFC.
Mereka --para pemain DFC-- sepertinya tidak memiliki tanggung jawab dan berkewajiban untuk bermain bagus,karena mereka lebih senang mengumpankan bola yang dikuasainya kepada lawanya ketimbang kepada temanya,jika pun menguasai bola dan akan direbut oleh lawan mereka seperti mempersilahkannya; tidak ada kegigihan dalam menjaga bola.
Mereka--tim DFC-- tidak bisa mengembangkan permainan dan keluar dari kungkungan permainan lawan,sepertinya mereka pasrah dijadikan bulan-bulanan tim lawan,mentalnya hancur dan saling menyalahkan diantara temanya.
Tapi saya tetap bersyukur karena bisa melihat pertandingan sepak bola seperti itu karena bagaimanapun DFC adalah tim andalan daru kampungku.
Walau hanya sebatas gol hiburan pada akhirnya tim DFC mampu menciptakan gol ke gawang lawan lewat tendangan pinalti Itulah satu-satunya gol yang mampu diciptakan oleh tim DFC hingga pertandingan usai skor PSG (6) vs DFC (1).
Komentar
Posting Komentar