Menangis Tapi Tidak Mengeluarkan Bunyi

Aku lebih senang melihatmu marah-marah/cemberut terhadapku atas kebiasaanku yang sering pulang larut malam dan atau ketidak-pekaanku terhadapmu atas pemberian uang belanja/ jajan untuk anak kita yang sering telat.Aku lebih senang melihat semua itu dari pada melihatmu terbaring di ranjang rumah sakit, dengan selang-selang dan sederet peralatan canggih, tetapi aku tetap saja mellihatmu meski sebelumnya tidak mau melihatmu seperti itu.

Mataku mengabur saat menatap matamu yang terpejam rapat, seperti dua jendela kamar yang ditutup karena penghuninya sedang perlu istirahat.Rintihanmu terdengar pelan seperti menahan sakit nan dahsyat.Sementara aku hanya diam memandangimu dari samping ranjang tempatmu berbaring seperti berhala,tidak merespon apa yang kau rasa dan rintihkan.Hanya saja retinaku melembab dan meneteskan air.Sepertinya saya menangis tetapi tidak mengeluarkan bunyi.

Melihat kondisimu seperti itu,ingin sekali aku berbuat sesuatu yang bisa mengubah fakta atas kondisi yang sedang kamu alami tetapi aku tidak mempunyai kapasitas untuk itu.Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah meminta bantuan do'a kepada orang tuaku lewat massenger adiku " agar proses persalinanmu berjalan baik-baik saja".

Seorang perawat datang mencopoti kabel-kabel yang menempel di badanmu,mendorong ranjang tempatmu berbaring ke luar menuju ruangan lain,aku mengikutimu dari belakang dengan terhuyung-huyung, seperti hantu yang mengambang di tengah kabut dan berhenti di depan pintu masuk ruang operasi dan aku menungguimu dari luar ruangan.

Kurebahkan tubuhku nan kelah di deretan kursi panjang yang tersedia di ruang tunggu , tertidur karena seharmal belum pernah sedikitpun memejamkan mata dan baru terjaga sekira pukul 15.40 wib saat seorang tenaga medis membangunkanku dengan mendorong keranjang bayi.

Tuhan berkuasa atas segalanya.DIA membuat mataku seterang cahaya siang --seakan-akan bisa melihat apa saja--.Kamu yang sebelumnya membuat pikiranku berkabut,seper-kian menit telah merubahnya menjadi kebahagiaan nan tak terkira.

Aku tergagap bangun dan mendekatinya,mengucapkan syukur dalam hati kepada Allah Tuhan YME serta berterimah kasih kepada tenaga medis yang telah menangani proses persalinanmu secara profesional.Kupandangi bayi itu sebentar.Cuma sebentar karena bayi itu segera dibawa kembali ke ruang NICU untuk perawatan lebih intensif.

Aku membuntuti sang tenaga medis yang membawa bayiku sampai ke ruangan yang dimaksud, ditaruhnya bayiku diatas medical infant bed berjejer diantara bayi-bayi lainya.

Saat memandangi bayiku, aku seperti mendapatkan "eureka momment" maka kugunakan kesempatan itu untuk melantunkan sholawat nabi yang bisa ku hapal,kupanjatkan doa kepada Allah Tuhan YME seraya meminta tenaga medis yang berdiri disampingku untuk ihlas mengminkanya.Sengaja aku tidak meng-adzaninya karena ssependek pengetahuanku adzan itu adalah seruan untuk sholat dan lagi pada hari-hari ini adzan sudah dipolitisir sedemikian rupa,disandingkan dengan suara anjing oleh kaum-kaum tertentu..Tidak terasa air mataku menetes.Sepertinya aku menangis tetapi tidak mengeluarkan bunyi dan itu adalah kali kedua air mataku keluar pada sore Jumat Pahing 25 Februari 2022.
**
Mendoakan anak adalah kewajiban bagi orang tua -menurutku- tapi orang tua seringkali menjadi masalah bagi anak-anaknya sendiri,kebanyakan orang tua sering mendoakan anaknya asal tiru;seperti "semoga kelak menjadi orang yang berguna bagi negara, bangsa, dan agama".
Didoakan menjadi apa sebetulnya anak itu?
Kenapa mereka tidak berdoa agar kelak anaknya berguna bagi dirinya sendiri, mampu berjalan tegak,berdiri tegap dengan upayanya sendiri, dan selalu sanggup bangkit lagi ketika jatuh atau berharap anaknya kelak menjadi pemenang nobel sastra, astronot yang bepergian dari galaksi ke galaksi,pengusaha roti yang berwibawa, penulis yang hebat, atau pemilik berhektare-hektare lahan pertanian? 

Kurasa orang tua dan tetangga yang ikut mendoakan itu tidak bersungguh-sungguh dengan doanya,seakan mereka tida

Komentar