Pengharapan Selalu Lebih Panjang Dari Nafas

Orang-orang ndesit seperti saya,memang tak pernah peduli akan tanggal dan bulan kelahiran apalagi untuk merayakanya.Berbeda bagi orang-orang kota, yang menganggap penting tentang hal itu,maka waktu masih kecil, aku sering heran bila mendengar guru-guruku dan atau orang-orang berbicara tentang ulang tahun.

Waktu itu aku baru kelas 3 SD,kutanyakan kepada teman-teman sekelasku tentang apa itu ulang tahun dan tak satupun teman-temanku itu soal ulang tahun.Perkara ulang tahun adalah gelap bagi anak-anak desa melarat yang udik di kampung seperti saya dan teman-temanku itu.

Tapi ada teman sepermainan yang sok pintar, usianya diatasku dua tahun, menerangkan bahwa ulang tahun adalah acara sunatan bagi orang non Islam. Sebenarnya aku tak percaya tapi dia terus memaksaku untuk mempercayainya dengan alasan dan narasi-narasi yang kacau.

Karena aku cerewet dan tak mempercayainya, temanku yang satunya (Kaspo) menjelaskan---sambil malas-malasan---bahwa ulang tahun adalah acara untuk memperingati arwah yang gentayangan ,arwah itu baru bisa disuruh pulang ke alam baka setelah diberi kue yang di atasnya dipasangi lilin.

Diskusi tentang ulang tahun semakin ramai tatkala (Roheb) temanku yang lainya datang mendebat Kaspo kalau penjelasanya salah.
“Dari mana kau dapat kabar bohong itu!?”tanyanya.
Kaspo tergagap-gagap, karena jelas ia hanya mengarang-ngarang, namun ia tak mau kalah.
“Itu kabar dari guru ngajiku, makanya hanya orang kristen yang merayakan ulang tahun, sedangkan kita tidak?!”Lalu, dengan serius Kaspo mengingatkan bahwa kue itu tidak cocok bagi perut orang ndesit seperti kita.

Kaspo dan Roheb berdebat sengit soal kesahihan ulang tahun. Perdebatan itu menjalar-jalar soal jin jahat, jin baik, dan jin insyaf.
Untung ada Mukit.Dia adalah yang paling senior diantara kami.Berkatalah Mukit, bahwa ulang tahun tak ada sangkut pautnya dengan hantu.Menurutnya, ulang tahun hanya diperbolehkan bagi anak-anak orang kaya yang tinggal di kota atau anak-anaknya pegawai,sambungnya dengan serius, seorang anak yang sangat kaya berhak merayakan ulang tahun 2 kali dalam setahun. Ia pun mengingatkan, jika anak-anak orang miskin seperti kita berani merayakab ulang tahun, maka akan ditangkapi polisi.

Lalu, sambil tersenyum Mukit menambahkan;andai kata tak ada aral melintang pada usianya yang ke 14 nanti ia akan diajak mbakyunya yang menikah dengan orang kota untuk menghadiri ulang tahun keponakanya.

Senyumnya menggelembung-gelembung seperti busa dadak jarak jetun yang ditiup lewat tangkai daunya. Aku tak tahu makna senyumanya itu, yang kutahu, senyum itu membuat badanku panas dingin. Oh, ulang tahun, ternyata sangat menakjubkan!.

Dewasa ini, mungkin karena banyaknya arus informasi baik dari media luring maupun daring,orang di desa kami pun mulai merayakan ulang tahun. Meriah, anak-anak kecil saling mengirim hadiah.

Ulang tahun tak lagi misterius seperti kami masih SD dulu.

Komentar